Belajar Mengenal Makna Kissing...


CIUMAN bisa jadi hanya makanan ringan dalam ‘menu’ bercinta. Namun, kehadirannya memberi dampak besar bagi kenikmatan dan kepuasan meraih orgasme.
Secara psikologis, berciuman dengan orang yang dicintai mampu membangkitkan rasa cinta. Berkaitan dengan seks, banyak orang bilang, seks bermula dari bibir. Di saat tak bergairah pun, sentuhan di wilayah ini memicu birahi dan melecut syaraf untuk meminta tindakan lebih “jauh”.
Jangan sepelekan makna ciuman. Saat dilakukan penuh gairah, ciuman tak pelak membawa Anda dan pasangan melewati pergumulan penuh kepuasan. Sebaliknya, ciuman ala kadarnya bisa menurunkan minat bercinta.
Ingin membuat ciuman Anda lebih panas atau sekadar tahu beberapa fakta seputar ciuman? Simak alasan-alasan berikut ini:

Saraf di Bibir
Ada banyak urat saraf di bibir (100 kali lebih banyak dibandingkan ujung jari) hingga mampu merangsang hasrat seks. Itu mengapa berciuman sebelum, selama, dan setelah bercinta bisa sangat merangsang dan memuaskan birahi Anda berdua.

Penuh Gairah
Sebanyak 40 persen pria mengatakan, ciuman yang sangat lama dan penuh gairah akan cepat mempersiapkannya untuk ajang pergumulan. Sementara 30 persen pria mengatakan, gairah tersebut akan memuncak jika Anda juga meraba-raba selangkangannya.

Cium Selamat Tinggal
Perhatikan sikap pasangan yang sering kali hanya memberi Anda ciuman singkat di pipi sambil mengatakan “selamat tinggal”. Ini bisa jadi sinyal bahwa dia menjaga jarak dan tidak mudah baginya untuk mengekspresikan cinta. Jika tak segera mengalami kemajuan, ini bisa jadi tanda bahwa dia sedang merasa gamang dengan hubungan Anda berdua.

Cium ke Dalam Telinga
Cara terbaik untuk mencium telinga pria adalah mencium daun telinga sebentar saja kemudian lanjutkan ciuman Anda ke dalam telinganya menggunakan ujung lidah. Untuk membuatnya makin bergairah, bisikkan kata-kata nakal dan erotis.

Alirkan Libido
Pria mencium dengan mulut terbuka agak lebar dengan maksud mengalirkan dorongan libidonya kepada pasangan. Jadi, saat dia mulai sedikit agresif, hal tersebut bukan semata tentang gairahnya, tapi juga gairah Anda. Dia ingin Anda juga ikut merasakan aliran itu dan jadi bergairah.
Ciuman penuh gairah menaikkan tekanan darah hingga menyebabkan jantung berpacu lebih cepat, membuat Anda semakin bergairah, dan akhirnya mudah mencapai orgasme.(int/amu)

Tiga Pemabuk



ADA dua orang lagi mabuk, namanya Rio dan Andi. Kata Rio, “Itu yang diatas bulan..”
Lalu si Andi menjawab, “Bukan, itu mah matahari.”
Dua orang itu bertengkar terus sambil jalan, ditengah perjalanan lewatlah seorang pemuda.
Ria menyergahnya, “Pak numpang tanya? Yang di atas itu bulan apa matahari?” tanyanya. Lalu orang itu menjawab, “Entahlah, aku baru pula disini,” kilah si pemuda.
Rupanya orang itu lagi teler juga, jadilah berkumpul tiga pemabuk.(kau)

Karena Rabun

SEORANG ibu yang sudah lanjut usia, membuat penglihatannya telah kabur. Tapi, biar pun begitu, pendengarannya masih jelas, dia menyuruh anaknya memanjat pohon Nangka.
Ibunya berkata, “Putra, ambil buah Nangka. Turunkan saja semuanya, biar nanti ibu suruh kakakmu buat sayur,” ungkapnya.
Dan si Putra menjawab, “Iya Bu, tapi nanti ibu hitung yah, berapa jatuhnya?” katanya. “Ya, Nak..” timpal si ibu. Putra lalu memanjat pohon. Trak.. tung...
“Satu, dua,” hitung si ibu. Nah, pas yang ketiga, semakin kuat bunyinya. “Tiga..!” pekik si ibu dengan suara lantang. Namun, dengan intonasi suara sedih sedih dan lirih, anaknya berucap, “Ibu, yang ketiga itu suara aku terjatuh. Kok ibu hitung juga?” rintihnya.(kau)

Sisim, Sihelem, dan Sigara-Gara

AKU suka dengan cerita-cerita lucu yang ada di POSMETRO, boleh nitip cerita lewat SMS, pak? Nama saya Darisman, panggil saja Daris. Saya beralamat di Sekupang.
Begini ceritanya, ada tiga orang pemuda bersahabat, namanya Sisim, Sihelem, dan Sigara-Gara. Pada Sabtu malam mereka jalan-jalan naik sepeda motor, berboncengan tarik tiga. Nah, karena motor lajunya kencang, pas tiba di tikungan tanpa disadari Sigara-Gara yang duduk paling belakang terjatuh.
Sampai di perempatan, barulah dua orang pemuda itu sadar, kalau kawannya hilang satu orang. Akhirnya mereka memutuskan berkeliling mencari kawannya yang hilang.
Namun, lantaran perilaku dua pemuda itu mencurigakan, mereka pun distop oleh Pak Polisi.
Polisi bilang, “Stop! Mana SIM?” cegatnya. Lalu Sisim menjawab, “Saya, pak..,” celetuknya sambil mengacungkan tangan.
“Lalu helm kalian mana?” tanya polisi lagi. Sihelem maju mendekat, “Saya, pak..” serunya. “Apa kamu, bentak polisi dengan suara keras-keras. Kalian mau cari gara-gara yah?!” marah si polisi.
Tapi direspon oleh Sisim dan Sihelem, “Iya pak, itulah yang kami cari,” tukasnya. Nah, sangkin emosinya si polisi, dua pemuda itu langsung dibawa ke markas Polsek. Setibanya di kantor polisi, tiba-tiba datang seorang polisi lainnya membawa kabar. “Lapor pak, ada seorang pemuda kecelakaan tapi kendaraannya tidak ditemukan.
Korban bernama Sigara-Gara,” adunya. Lantas Sisim terperanjat, “Iya, itulah yang kami cari, pak..” ujarnya.
Si polisi menimpali, “Jadi kawan kalian itu yang kalian maksud?” tanyanya. “Iya, pak..” jelas Sisim. “Ya sudah, kalian boleh pulang,” tutur polisi. “Terima kasih, pak..” ujar Sisim dan Sihelem seraya berpamitan dan bergegas melangkahkan kaki keluar kantor polisi sambil tergopoh-gopoh membawa kawannya, Sigara-Gara.(kau)

Aku memang suka air

Siang itu, riak ombak Pantai Sekilak, Batubesar, mulai bergeliat. Ketika itu, kamu datang wajah cantikmu, tanpa make-up menempel di pipi. Polos, alami, namun tetap memikat.
“Aku suka difoto-foto sejak kecil. Entah mengapa, aku nggak terlalu suka make up,” katamu, sambil melangkah di cadasnya batu karang.
Meski usiamu masih belia, baru 14 tahun, namun ekspresimu lumayan juga. Tak kau pedulikan orang di sekitarmu, saat kamu bergaya di depan kamera. Sebuah keberanian yang patut diacungi jempol.
Saat kakimu melangkah ke air laut, jemarimu seolah tak kuasa untuk memainkan air. Dengan lembut kau dulang air, menyibaknya, sambil tersenyum lebar. Gembiramu tumpah bersama butiran air laut yang jernih.
“Aku memang suka air. Aku punya pengalaman unik. Saat masih umur 5 tahun, saat di kampung, Kuningan, Jakarta, aku pernah tenggelam di kali. Untung ditolong Oom,” ceritamu.
Namun, sejak kejadian yang nyaris merenggut nyawamu itu, kamu tidak pernah trauma. “Tapi aku juga tidak ingin tenggelam lagi,” sahutmu, pelan.
Di usiamu yang masih belia, masa depan masih terbentang panjang. “Sebenarnya cita-citaku ingin jadi penyanyi. Tapi suka nervous kalau di panggung,” ceritamu lagi.
Dalam waktu dekat, kamu memilih bergabung dengan salah satu Model Agency di Batam. Tak lain, untuk mengembangkan kepribadian sekaligus pengembangan diri. “Kelak, aku ingin menjadi seorang dokter!” ujarmu lagi, dengan tekanan, seolah kamu yakin.(allib)


Nama: Anggun Amelia,
Panggilan: Anggun,
Tempat/ Tanggal Lahir: Kuningan, 19 Agustus 1995,
Bintang: Leo
Rumah: Blok H Perumahan Centre View, Batam
Ayah: Fua Lian See,
Ibu: Endang C,
Hobi: Renang, Travelling,
Cita-cita: Jadi dokter,
Film Fav.: Action,
Warna Fav.: Putih dan ungu,
Sekolah: Kelas II SMK Kartini, Batam.


Nonton Film Kok Bawa Diktat

ADA pengalaman menarik dari kegiatan membaca Gus Dur yang diingat oleh Gus Mus. Suatu hari, Gus Dur dan Gus Mus sama-sama membaca buku di atas bus. Gus Dur kebetulan sudah selesai membaca, sedangkan Gus Mus belum.
“Gus Dur mengajak omong (bicara) saya. Tapi karena saya belum rampung membaca buku sampai titik, saya umbarno wae (biarkan saja) dia,” tuturnya sembari tertawa.
Mengenai kegemaran Gus Mus menonton film, Gus Dur juga punya cerita. Gus Dur suatu hari memakai pakaian yang necis sekali di mata Gus Mus. Gus Dur yang jarang masuk kuliah itu tumben (tak biasanya) mengajak Gus Mus untuk berangkat kuliah bersama-sama dengan naik bus yang kebetulan ramai penumpang.
“Ketika mendekati kampus, baru kami mendapatkan tempat duduk,” kenang Gus Mus.
Sesampainya di depan kampus, Gus Mus mengajak Gus Dur untuk turun. Namun Gus Dur malahan tidak mau turun dan mengajak terus naik bus. Alasannya cukup aneh ditelinga Gus Mus, sayang turun dari bus karena baru saja mendapatkan tempat duduk.
Akhirnya Gus Mus mengalah dan mengikuti Gus Dur. Ketika bus berjalan lagi hingga hampir mencapai gedung bioskop, Gus Dur malah mengajak turun. “Tak tahunya dia telah membawa dua tiket nonton film dan saya diajak. Kalau tahu begitu, mending tidak usah bawa diktat untuk kuliah. Nonton film kok bawa diktat,” kata Gus Mus.
Gus Dur, katanya, juga sering nonton satu film dua kali. “Kata Gus Dur, ada bagian di film itu yang kelewatan sehingga harus ditonton lagi,” tandasnya.***


KB Dingklik

DI sebuah Puskesmas sedang diadakan survei tentang efektivitas KB. Pada saat itu terdapat beberapa orang ibu yang sedang antri untuk pemeriksaan rutin alat kontrasepsi yang sedang mereka gunakan. Oleh petugas survei mereka diminta untuk mengacungkan jari setiap alat kontrasepsi disebut satu persatu.
Setelah semua alat KB disebutkan semua oleh petugas survei, ternyata ada satu orang ibu yang tidak mengacungkan jarinya. Karena penasaran, ditanyalah si ibu tersebut,
Petugas survei: “Dari tadi saya perhatikan, ibu tidak pernah mengacungkan jari setiap alat KB saya sebut. Apakah ibu tidak KB atau bagaimana?
Ibu X: “Saya KB mas, tapi alat KB yang saya gunakan adalah “dingklik” (sebutan untuk semacam kursi pendek dari kayu di Jawa)
Petugas Survei: “Lho kok bisa begitu...?”
Ibu X: “Iya mas, begini ceritanya. Saya punya suami dengan tubuh lebih pendek dari saya. Setiap kali berhubungan badan, posisi berdiri yang paling disukai suami saya. Karena lebih pendek, maka suami selalu menggunakan “dingklik” agar bisa sejajar dengan tubuh saya. Pada saat suami saya sudah mulai menderu nafasnya, artinya dia akan segera ejakulasi. Nah pada saat itu “dingklik” yang dia pakai langsung deh saya tendang....he3x”.
Petugas Survei: “Haaaaaaa.......sadis amat sih bu....?”***