Showing posts with label JurnalisTic. Show all posts
Showing posts with label JurnalisTic. Show all posts

AKADEMISI WAJIB MENULIS BUKU I Apapun kemungkinannya tidak ada jeleknya kalau saya ingatkan kembali

Cara termudah bagi seorang akademisi untuk membangun kredibilitas akademiknya adalah dengan menulis buku. Terutama bagi mereka yang sudah menjadi dosen. Apakah saya sedang bercanda? Kalau menulis artikel singkat di koran atau menulis paper ilmiah untuk jurnal saja "tidak sempat", bagaimana mungkin "ada waktu" untuk menulis buku?

Menulis buku bagi seorang dosen sebenarnya sangat mudah. Rata-rata dosen UI, UGM, ITB, dll menulis buku. Isinya pun sederhana tapi cukup representatif. Waktu kuliah S1 jurusan hukum di Indonesia, saya terkesan dengan buku "Dasar-dasar Ilmu Politik" karya Prof Miriam Budiarjo, guru besar UI yang mantan diplomat di AS. Isinya ringan tapi berbobot dan yang lebih penting lagi semua kandungan buku tsb adalah kumpulan materi kuliahnya selama setahun di FISIP UI!

Apa yang dilakukannya merupakan ide sederhana tapi cemerlang: menulis buku dari kumpulan materi kuliah yang diajarkan pada mahasiswa. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa semua dosen dapat menulis buku. Paling sedikit, setahun sekali. Asal setiap materi kuliah dipersiapkan secara serius. Tidak sulit, bukan?

Kandungan buku yang berasal dari kumpulan materi kuliah dosen sebenarnya bukan hal baru. Semua dosen di seluruh dunia melakukan hal serupa, termasuk dosen-dosen kita di India, di Mesir, Eropa, Amerika, dll. Saya ungkapkan lagi di sini, karena saya melihat dosen-dosen alumni India belum ada yang melakukannya; mungkin belum tahu atau mungkin lupa. Apapun kemungkinannya tidak ada jeleknya kalau saya ingatkan kembali.

Buku juga dapat berupa kumpulan makalah ilmiah yang pernah kita bawakan di sejumlah seminar, pernah dimuat di jurnal atau kompilasi tulisan artikel pendek yang pernah dimuat di media. Buku sejumlah tokoh akademisi banyak juga yang berasal dari kumpulan tulisan mereka di media. Buku-buku Prof Dr Nurcholis Madjid seperti "Keislaman dan Keindonesiaan", "Islam dan Peradaban", dll. adalah salah satu contoh.

Kenapa kalangan akademisi umumnya begitu getol menulis atau menyusun buku? Jawaban pertama yang keluar adalah "untuk membangun kredibilitas atau reputasi akademis". Ini tidak berarti bahwa kalangan akademisi yang tidak mempunyai karya ilmiah sama sekali sebagai bodoh. Tidak. Ia bisa saja pintar, bahkan mungkin saja lebih pintar dari yang menulis. Tapi, tanpa memiliki karya bagaimana orang lain tahu bahwa anda memiliki kapabilitas/kemampuan akademis yang mumpuni? Bagaimana orang tidak akan meragukan ijazah dan titel Anda yang berderet-deret? Dan pada tataran praksis, bagaimana Anda dapat mencapai kredit poin untuk menjadi profesor apabila tidak memiliki karya tulis?

Akademisi Pakar dan Non-Pakar

Secara faktual, walaupun tidak pernah disebut secara eksplisit, kalangan akademisi terbagi menjadi dua kelompok: pakar dan non-pakar. Apabila Anda rajin menonton channel TV berita internasional seperti CNN, BBC, CNBC atau rajin membaca jurnal dan majalah internasional seperti TIME (www.time.com), NEWSWEEK (www.newsweek.com), Al Jazeera (www.aljazeera.net), The Guardian (www.guardian.co.uk), The Times (www.times.co.uk), International Herald Tribune (www.iht.com), dll, maka anda akan melihat siapa saja tokoh-tokoh yang mengisi di situ. Dari kalangan akademisi, biasanya yang muncul tulisannya atau wawancaranya adalah mereka yang sudah menulis buku. Di CNN atau BBC umpamanya, di bawah gambar tokoh yang diwawancarai biasanya selalu ada keterangan tentang buku yang ditulisnya yang berkaitan dengan topik wawancara.

Begitu juga dengan kalangan akademisi yang mengisi kolom-kolom majalah internasional. Bangga sekali saya rasanya ketika melihat tampang dan tulisan Gunawan Mohamad, mantan pemred majalah TEMPO, tampil di majalah bergengsi Amerika, TIME. Di akhir tulisannya ada keterangan singkat bahwa dia adalah penulis buku SIDELINES (kumpulan tulisannya di Tempo dalam kolom Catatan Pinggir).

Apa artinya semua ini? Jelas, seorang akademisi baru dianggap pakar yang kredibel dan patut didengar kata-katanya kalau dia sudah membuahkan karya tulis, terutama yang berbentuk buku. Baik itu berupa kumpulan tulisan pendek atau karya utuh. Tanpa itu, janganlah merasa bangga hanya karena telah berhasil menjadi dosen. Karena kredibilitas kedosenan/akademisi Anda masih dipertanyakan banyak orang.

Nah, apakah seorang akademisi yang tak memiliki karya tulis pantas dianggap pakar? Apakah gelar M.A. dan Ph.D belum cukup untuk menjadi akademisi pakar yang kredibel? Tentu saja bisa. Akan tetapi masalahnya adalah, pertama, siapakah yang tahu akan kepakaran anda bila tidak menulis? Kedua, bagaimana kita dapat mengklaim diri sebagai pakar apabila keilmuan kita belum teruji dan dikritisi selain oleh mahasiswa sendiri yang umumnya akan berpikir dua kali untuk mengkritisi dosennya. Aturan tak tertulis dalam dunia kompetisi adalah semakin teruji kualitas seseorang di "medan tempur", maka akan semakin tinggi kualitas orang tsb.

Dalam lingkup nasional dan internasional, akademisi yang belum memiliki karya tulis (published articles, atau buku), belum dianggap pakar, walaupun dia sudah bergelar M.A. atau Ph.D. Sebaliknya, walaupun baru lulus S1 tapi kalau sudah menulis buku bisa dianggap akademisi pakar. Gunawan Mohamad adalah salah satu contoh.. (Mario Gagho)



BIODATA PENULIS DAN BONUS TULISAN I Kalau kebetulan tema tulisan sesuai dengan jurusan dan/jabatan kita

Setelah tulisan selesai, jangan lupa menuliskan biodata anda.Biodata penulis biasanya harus berkaitan dengan tema tulisan dan isinya singkat. Kalau kebetulan tema tulisan sesuai dengan jurusan dan/jabatan kita, maka jurusan/jabatan bisa digunakan sebagai biodata. Contoh, Sdr. Purwono, Medan, menulis artikel seputar sastra, maka biodatanya bisa dua macam (a) Dosen Fakultas Sastra UISU, Medan; atau (b) Pembantu Dekan I, UISU, Medan (jabatan ini dapat juga dipakai sebagai biodata tulisan yang berkaitan dengan dunia pendidikan secara umum).

Akan tetapi kalau tulisan kita berkaitan dengan masalah yang tidak ada hubungannya dengan jurusan kita, maka dapat menggunakan biodata yang berkaitan dengan tulisan tsb. Contoh, Tasar Karimuddin yang jurusan ilmu politik menulis seputar agama, maka biodata bisa ditulis sebagai berikut: Penulis adalah Khatib KBRI New Delhi, atau Staf Litbang PPI-India, dst. Intinya, biodata bukan soal yang sulit. Ia dapat fleksibel, sesuai kebutuhan dan tema tulisan yang kita buat.

Bonus

Apakah tulisan yang dimuat ada honornya? Tentu ada. Namun, honor tulisan lebih pantas disebut bonus mengingat jumlahnya tidak begitu besar, bahkan sangat kecil untuk koran daerah, kalau diingat bahwa diperlukan painstaking effort untuk riset bahan, dan lain-lain. Apresiasi intelektual memang masih sangat kurang di negara kita dibanding di negara maju. Termasuk dalam hal ini honor/gaji dosen (PNS atau swasta), misalnya, yang kalah jauh dengan penghasilan tukang bengkel atau pemilik toko.

Namun demikian, dibanding di India, honor tulisan di kita terbilang lumayan. Di the Jakarta Post (artikel bahasa Inggris), misalnya, tulisan yang dimuat bernilai Rp.750.000. Sedang di Kompas dan Jawa Pos, masing-masing Rp.450.000 dan Rp. 500.000. Ketiga koran ini adalah yang terbesar honornya. Sedangkan koran nasional lain seperti Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, dan lain-lain dan koran daerah di Jawa rata-rata Rp.300.000. Sementara untuk koran daerah luar jawa berkisar antara Rp.50.000 sampai 200.000.

Menulis memang hendaknya tidak diniatkan untuk mengharapkan honor (baca, untuk cari duit). Karena kalau ini yang jadi tujuan, banyak aktivitas non-intelektual lain yang dapat menghasilkan jumlah lebih besar, walaupun kalau tulisan kita dimuat secara teratur dua kali saja dalam sebulan bisa melebihi gaji dosen. Menulis, seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, bertujuan utama untuk (a) membangun kredibilitas intelektual dan gelar yang kita sandang; (b) menyebarkan ide yang kita miliki ke kalangan yang lebih luas; (c) ikut mewarnai dunia wacana nasional yang akan punya pengaruh langsung pada pembangungan masa depan Indonesia dan (d) membentuk citra baik almamater, institusi dan jabatan yang kita sandang.

Sekali lagi saya ingin mengulangi dan menekankan bahwa belajar menulis, terutama bagi pemula, adalah DENGAN MENULIS APA YANG MAU KITA TULIS. TIDAK PERLU BELAJAR TEORI. Dan kirimkan tulisan tsb. ke media. Idealnya, sebelum dikirim tulisan kita diperiksakan dulu pada rekan atau dosen anda yang biasa menulis. Kalau tidak ada, langsung saja dikirim. Jangan lupa, usahakan setiap hari membaca rubrik: headlines, editorial dan artikel opini koran yang anda baca. Soal nonteknis yang tak kalah pentingnya untuk produktifitas menulis adalah BE RESILIENT AND HUMBLE (tidak mudah putus asa untuk terus mencoba kalau tulisan tidak dimuat dan tetap rendah hati ketika tulisan dimuat). (Mario Gagho)

BASIS DAN TOPIK TULISAN. Isi Editorial/Tajuk sebuah media., Headline/Berita utama sebuah media., Tulisan opini., Hari besar Nasional dan Inte

Seperti yang sudah disinggung di pada tip sebelumnya, tulisan opini adalah berupa tanggapan dari fenomena yang lagi tren saat ini. Dalam konteks tulisan opini di koran, maka tulisan yang perlu kita tanggapi adalah sebagai berikut:



Siapapun yang ingin jadi penulis/pengamat hendaknya tidak pernah melewatkan tiga poin pertama di atas setiap kali membaca sebuah koran. Dan selalu mengingat poin ke empat.

(1) Tanggapan Editorial/Tajuk sebuah media adalah suara atau sikap resmi dari media yang bersangkutan tentang sebuah kasus/kejadian tertentu; sesuai dengan misi media tsb. Menanggapi editorial/tajuk di harian Kompas tentu saja berbeda dengan cara kita menanggapi editorial di harian Republika, misalnya. Umumnya menanggapi tulisan editorial/tajuk harus cepat. Idealnya, tanggapan untuk tajuk/editorial hari ini dapat dikirim hari ini juga sehingga dapat dimuat esok harinya di media terkait. Namun, kalau tanggapan kita baru selesai dalam dua hari, teruskan dikirim ke media terkait, karena peluang untuk dimuat masih tinggi terutama untuk media yang tak sebesar Kompas.

(2) Tanggapan Headline Media/Berita Utama juga bisa dijadikan pijakan untuk menulis. Jangan lupa untuk mencatat nama media/tanggal/bulan headlines yang kita kutip.

(3) Tanggapan Artikel Opini. Artikel opini dikenal juga dengan istilah artikel OP-ED (singkatan dari opini-editorial). Umumnya artikel OP-ED yang menanggapi artikel OP-ED lain berisi tambahan yang lebih lengkap dari yang dibahas sebelumnya atau menentang artikel yang ditanggapi.

(4) Hari besar nasional/internasional adalah tulisan yang isinya berkaitan dengan hari besar pada saat itu. Contoh, pada sekitar 21 Januari mendatang adalah Hari Raya Idul Adha. Siapkan sejak sekarang tulisan yang berkaitan dengan hari idul adha. Dan kirimkan segera ke media sebelum hari H.

Catatan:

Umumnya kita mengirim tulisan yang berdasarkan tanggapan atas Editorial atau Headlines pada media yang kita tanggapi. Contoh, tanggapan Editorial/Headlines di Kompas hendaknya dikirim ke Kompas, tidak ke media lain. Namun kalau tidak dimuat di media terkait, tak ada salahnya dikirim ke media lain. Sedangkan untuk artikel OP-ED yang berkaitan dengan hari besar nasional/internasional dapat dikirim ke media mana saja.

Kalau Artikel Tidak Dimuat

Untuk Kompas dan Suara Pembaruan tulisan yang tidak dimuat biasanya mendapat pemberitahuan dari redaksi. Sedangkan di koran-koran lain tanpa pemberitahuan. Umumnya, kalau dalam waktu seminggu tulisan tidak muncul, berarti tulisan kita tidak dimuat dan bisa dikirim ke media/koran lain.

Jangan lupa, tulisan yang sama dapat dikirim ke dua media yang berbeda asal tidak sama segmennya. Contoh, satu tulisan bisa saja dikirim ke media nasional dan media daerah (tentu saja tidak sekaligus di-CC-kan dalam satu email). Tapi jangan sekali-kali mengirim satu tulisan ke dua media yang sama segmennya. Seperti pada dua media nasional atau dua media daerah yang sama. Contoh, Kompas dan Republika (dua media nasional) atau Waspada dan Harian SIB (media daerah Medan). (Mario Gagho)

Waktu itu saya dan Julkifli Marbun, yang sekarang jadi wartawan GATRA, menjadi guide rombongan GD

Salah satu kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan sebagai mahasiswa India terjadi pada saat kedatangan presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (GD) ke India pada 2001. Waktu itu, dia diikuti oleh sejumlah besar rombongan pebisnis dan --ini yang tak saya ketahui sebelumnya-- sejumlah pemimpin redaksi media cetak Indonesia.

Kami baru tahu kalau para pemred ikut sewaktu GD mengadakan audisi dengan masyarakat Indonesia di KBRI New Delhi. Waktu itu seluruh pemred diminta oleh GD untuk memperkenalkan diri. Di situ baru saya terperanjat. Mengapa saya dan teman-teman PPI tidak tahu keberadaan mereka? Dan mengapa pihak KBRI tidak memberitahu? Tentu saja kesalahan terbesar ada pada PPI yang tidak menanyakan hal itu, walaupun seandainya pihak KBRI menginformasikan keikutsertaan para pemred itu tanpa ditanya akan lebih diapresiasi.

Setelah acara pertemuan dengan GD selesai dan rombongan pulang ke Tanah Air, kami baru merasakan hilangnya peluang emas sangat besar yang dapat mempengaruhi sepak terjang sejarah peran mahasiswa India di bidang penulisan/pemikiran di masa depan. Ini pelajaran berharga yang semoga tidak terulang di masa depan. Dan dari sini juga dapat dilihat betapa perlunya koordinasi antara PPI dan KBRI, khususnya dalam menginformasikan kedatangan tamu dari Tanah Air.

***

Membina hubungan personal dengan kalangan media Tanah Air, dengan para wartawan khususnya pemred-nya, sangatlah perlu. Dan itu menjadi salah satu trik yang tak kalah pentingnya agar tulisan kita dapat dimuat. Seperti yang saya singgung dalam tulisan sebelumnya, persaingan atau lebih tepatnya kompetisi dalam menulis sangatlah ketat. Rata-rata antara 20 sampai 50 tulisan masuk ke meja redaksi media setiap harinya. Sedang yang dapat dimuat cuma antara dua sampai empat tulisan.

Apabila terdapat 20 tulisan saja yang masuk untuk dimuat besok harinya dan semuanya memenuhi syarat untuk dimuat dari segi relevansi tulisan dan kebaruan idenya, maka biasanya redaksi akan memprioritaskan tulisan yang, pertama, penulisnya sudah terkenal. Kedua, penulisnya sudah kenal pribadi (walaupun belum terkenal). Ketiga, penulisnya belum dikenal tapi tulisannya cukup bagus. Jadi, kita-kita sebagai penulis yang belum terkenal dan belum kenal pribadi dengan tim redaksi hanya mendapat prioritas ketiga. Kesempatan dimuat adalah apabila kelompok pertama atau kedua sedang tidak mengirim tulisan atau tulisannya kurang bagus. Di sinilah relevansinya mengapa membina hubungan personal dengan tim redaksi sebuah media itu perlu dan sangat penting. Dan itulah sebabnya, mengapa saya merasa melakukan kesalahan sangat besar karena melewatkan kesempatan emas kala para pemred tersebut datang ke New Delhi waktu itu.

Namun demikian, kita hendaknya tidak kecil hati. Stay cool and relax. Tetaplah menulis dan mengirim ke media. Penulis baru yang "bandel" akan mendapat perhatian tersendiri dari redaksi. Dan itu sudah terbukti dari pengalaman rekan-rekan yang tidak kenal sama sekali dengan redaksi tapi tulisan-tulisannya sudah dimuat di media seperti Qisai, Zamhasari Rizqon dan Tasar, dan lain-lain. Ini terjadi karena penulis terkenal di kita kurang produktif dan di situ peluang penulis-penulis baru seperti kita untuk bisa masuk. Sekali tulisan kita dimuat, tulisan-tulisan berikutnya akan mudah diterima walaupun tidak otomatis dimuat.

Membina Relasi via Milis dan Chat Room

Internet telah merubah tatanan konvensional di berbagai lini kehidupan. Kalau dulu, untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu di KBRI perlu datang ke rumahnya atau kantor, sekarang via milis inipun kita dapat "ngobrol" dengan mereka; begitu pun mereka dengan kita. Dulu, kita tidak pernah kenal dengan mahasiswa Pune, Bangalore, Hyderabad, dan lain-lain dan masyarakat KJRI Mumbai. Sekarang, kita dengan mudah saling kenal via milis walaupun secara fisik belum bertemu.

Dengan demikian, milis dapat dijadikan sebagai ajang mendekatkan diri dengan kalangan wartawan. Dari milis nasional ppi, saya banyak mengenal mereka yang aktif berdiskusi seperti Satrio Arismunandar dari TRANS TV, Heri Hendrayana alias Gola Gong dari RCTI, Sirikit Syah dari Media Centre, Ramadan Pohan dari Jawa Pos, Elok dan Edna dari Kompas, dan lain-lain. Untuk lebih banyak lagi mengenal kalangan jurnalis ini silahkan bergabung dengan milis mereka seperti

jurnalisme@yahoogroups.com,

wartawanindonesia@yahoogroups.com,

pantau-komunitas@yahoogroups.com, dan lain-lain.

Apabila kita sudah sering berdebat dengan mereka di milis, biasanya hubungan itu bisa terus dilanjutkan via email pribadi dan bahkan dapat diteruskan via chatting atau YM (yahoo messenger). Kalau sudah demikian personal, tidak terlalu sulit tulisan kita dapat menembus media mereka. Irwansyah Yahya, umpamanya, yang sudah kenal dekat via online dengan Rizal (wartawan harian Serambi), atau Rizqon dengan harian Duta Masyarakat, adalah beberapa contoh kecil yang berhasil menjalin hubungan personal dengan media. Selain itu, kelebihan kenal personal seperti ini adalah apabila mereka memerlukan tulisan tentang India, maka mereka akan langsung menghubungi kita untuk membuatnya. Seperti Rizqon Khamami yang sudah sering diminta menulis untuk jurnal Taswirul Afkar, harian Duta Masyarakat, pesantrenvirtual.com, dan lain-lain. (Mario Gagho)



Cara lain adalah dengan BANYAK MEMBACA TULISAN/ARTIKEL ORANG yang sudah dimuat. Resapi tutur bahasanya. Teliti cara pengungkapan idenya

Di bagian sebelumnya disebutkan bahwa cara terbaik memulai menulis adalah LEARN THE HARD WAY. Langsung menulis menurut insting, tanpa belajar teori; bak cowok atau cewek yang rajin menulis diary kala sedang jatuh cinta. Dan langsung dikirim ke media.

Umumnya tulisan apapun tak luput dari tiga unsur: pengantar, isi dan penutup/kesimpulan. Ketiga unsur ini tak pernah disebut tapi bisa dirasakan. Semakin banyak kita membaca tulisan orang, akan semakin mudah kita menyerap dan membedakan mana yang pengantar, isi dan kesimpulannya; dan semakin mudah kita 'meneladani' gaya dan cara ekspresinya.

Biasanya kita akan cenderung meniru gaya penulis tenar yang bentuk dan ide tulisannya paling sesuai dengan ide-ide kita. Rizqon, misalnya, yang cenderung terbawa gaya menulis Ulil Abshar-Abdalla, tokoh muda NU idolanya yang walaupun cuma lulus M.A. sudah sering memberikan general lectures di berbagai universitas beken Amerika seperti di Harvard Univ., Michigan Univ., dan lain-lain. Saat ini, Rizqon tampak sudah pindah meneladani gaya tulisan Saifuddin Zuhri, menteri agama RI era Sukarno yang produktif menulis. Anda bisa melihat gaya baru tulisan Rizqon Khamami ini dalam kumpulan tulisannya di situsnya:

http://rizqonkham.blogspot.com

Sedangkan Zamakhsyari Jamil cenderung meniru gaya menulis tokoh pujaannya dari Riau, Tabrani Yunis, bekas tokoh Riau Merdeka, yang kolomnis tetap di koran Riau Pos. Tulisan-tulisan Tabrani Yunis yang slengekan dan tajam tampak mewarnai tulisan ustadz muda KBRI ini. Kumpulan tulisannya yang sudah dipublished maupun belum bisa Anda temui di situsnya: http://e-tafakkur.blogspot.com

Saya sendiri, yang kata ayah saya "berotak lemah dan bodoh", cenderung meniru gaya tulisan yang mudah dipaham orang, kendatipun saya tidak terfokus meniru satu gaya tertentu. Tulisan-tulisan Hamka, Amin Rais, Jalaluddin Rahmat sangat mudah dicerna otak saya yang lamban, dan mungkin sedikit banyak mempengaruhi gaya saya menulis. (Mario Gagho)

Topik tulisan adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di A

Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:

1. Mempelajari teori menulis baru praktik;
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.

Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman rekan-rekan di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.

Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah. Pernah saya coba belajar bahasa Inggris dengan membaca grammar, hasilnya sama: pusing kepala.

Sulitkah Menulis?

Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap "santai". Eep Saifulloh Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media -- dimuat atau tidak itu tidak penting-- barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian.

Topik Tulisan
Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tersebut kan tidak kenal. Jadi' kenapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dulu, dimuat atau tidak, urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala.

Rendah Hati dan Sifat Kompetitif

Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yang sudah menjadi dosen yang di mata mahasiswa-nya mungkin sudah paling 'wah' sehingga mendorong perasaan kita jadi 'wah' juga alias ke-GR-an.

Nah, menulis dan mengririm tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.

Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya. Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.

It's your choice: you are either being a loser or a winner. Being a loser is easy. Just sit down in the chair, behind your desk. And feel comfort with your hallucination of being "a great guy" which is actually not, as a matter of fact. (Mario Gagho)

Bagi siapa saja yang berminat mengirim tulisan ke media cetak (koran/majalah), maka berikut sedikit tips dari saya

Panjang tulisan antara 700 sampai 1000 kata *. cara melihat jumlah kata: MS WORD --> tools--> wordcount ---> words
Kirim ke media via email dalam bentuk MS WORDS via attachment.

Berikut ini adalah beberapa alamat email media cetak yang mungkin Anda butuhkan:

NASIONAL

~ Republika sekretariat@republika.co.id
~ Kompas opini@kompas.com
~ opini@kompas.co.id
~ kompas@kompas.com
~ Media Indonesia redaksi@mediaindonesia.co.id
~ Suara Pembaruan koransp@suarapembaruan.com
~ opinisp@suarapembaruan.com
~ Sinar Harapan redaksi@sinarharapan.co.id
~ info@sinarharapan.co.id
~ Harian Pelita hupelita@indo.net.id
~ Jawa Pos editor@jawapos.com
~ editor@jawapos.co.id
~ Suara Karya redaksi@suarakarya-online.com
~ Koran Tempo ndewanto@mail.tempo.co.id
~ Majalah Tempo hidayat@mail.tempo.co.id

MEDIA DAERAH SUMATERA

~ Posmetro Batam (Batam) posmetrobatam@yahoo.com
~ Waspada (Medan) redaksi@waspada.co.id
~ waspada@waspada.co.id
~ Suara Indonesia Baru (Medan) redaksi@hariansib.com
~ Batam Pos redaksi@harianbatampos.com
~ Serambi Indonesia (Aceh) redaksi@serambinews.com
~ serambi_indonesia@yahoo.com
~ Sriwijaya Post (Palembang) sripo@persda.co.id
~ sripo@mdp.net.id

MEDIA DAERAH JAWA

~ Pikiran Rakyat (Jawa Barat) redaksi@pikiran-rakyat.com
~ info@pikiran-rakyat.com
~ Suara Merdeka (Jawa Tengah) redaksi@suaramer.famili.com
~ Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) redaksi@kr.co.id
~ Koran Bernas (Yogyakarta) koranbernas@yahoo.com
~ Harian Surya (Jawa Timur) surya1@padinet.com
~ Harian Duta Masyarakat (JaTim) dumas@sby.centrin.net.id

MEDIA DAERAH BALI

~ Bali Post balipost@indo.net.id

MEDIA DAERAH KALIMANTAN

~ Banjarmasin Post banjarmasin_post@persda.co.id
~ bpostmania@telkom.net
~ Pontianak Pos redaksi@pontianakpos.co.id

MEDIA DAERAH SULAWESI

~ Harian Fajar (Makassar) fajar@fajar.co.id

Jadi, setelah Anda selesai menulis di MS WORD sebanyak 700 - 1000 kata, maka kirimkan ke media yang dituju melalui email mereka. Sekali lagi, artikel dikirim via attachment. Dan jangan lupa tulis di subject email sbb: "Artikel Opini: " [judul tulisan anda di sini...]

Langkah pertama, cobalah menulis ke koran, bukan majalah. Karena kolom di majalah biasanya pesanan dari redaksi; dan diisi penulis yang sudah terkenal.


Catatan:

1. Email redaksi sejumlah harian/koran Indonesia di atas adalah email media cetak. Sedangkan email media online seperti detik.com, dll tidak termasuk di sini.

2. Perlu diketahui bahwa tulisan kita yang dimuat di media cetak, akan otomatis dimuat di website mereka masing-masing. Artinya, kalau tulisan kita tampil di website koran bersangkutan berarti dimuat di media cetaknya. Memang koran seperti Waspada (Medan) dan Riau Pos (Riau) pernah memiliki dua edisi online dan offline (cetak), tapi sekarang sudah tidak lagi.

3. Jangan pernah mengirim satu tulisan pada dua koran nasional atau dua koran yang satu daerah dalam waktu bersamaan. Karena kalau sama-sama dimuat di kedua koran tsb. kita akan mendapat sangsi berupa tulisan kita tidak akan lagi dimuat di keduanya. Akan tetapi, kalau dikirim pada dua koran yang lain segmennya, seperti ke koran nasional dan koran daerah itu tidak apa-apa walaupun seandainya sama-sama dimuat. (Mario Gagho)



PENGANTAR TIPS MENULIS DI MEDIA MASSA


Benarkah menulis itu sulit? Memang tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Dan pertanyaan ini juga terus menerus ditanyakan orang dari generasi ke generasi.

Secara umum, sulit atau mudahnya sesuatu tergantung banyak hal, antara lain, niat, kemauan, serta anggapan dan keyakinan yang ada dalam pikiran kita. Jika niat dan kemauannya kuat, maka usaha untuk mencapainya juga akan lebih giat, sehingga proses pencapaiannya akan terasa lebih mudah.

Sebaliknya, jika kita menganggap sesuatu itu sulit, maka kesulitan pulalah yang akan kita hadapi. Lain halnya jika kita menganggap sesuatu itu mudah (ingat: menganggap mudah tidak sama dengan menganggap enteng), maka biasanya segala sesuatunya akan terasa lebih mudah.

Lalu bagaimana pula jika kita ingin tulisan kita dimuat di media massa? Prinsipnya sama, sepanjang kita memiliki tekad yang kuat, berpikir positif, dan mau berusaha, maka keinginan kita itu bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.


Sebagai panduan awal, eBook ini mengupas tips seputar menulis untuk media massa berikut pernak-perniknya yang ditulis oleh Mario Gagho di Refleksi dan Blog Tutorial. Versi eBook ini dibuat sekedar untuk memudahkan mereka yang ingin membacanya secara offline, dan konversi ke dalam bentuk eBook dilakukan dengan seizin penulisnya.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

Tata Danamihardja

http://bukamulut.blogspot.com